yang Allah suka


Masa muda adalah masa yang berapi-api. Terkadang tak peduli apa kata orang, apa yang terjadi di sekitarnya. Kalau berkata atau berbuat, biasanya tanpa pikir panjang akibatnya. Mungkin ini yang disebut dengan impulsive. Berbicara dan bertindak tanpa berpikir apa yang dirasakan oleh orang yang mendengar dan ditindakinya.

Seharusnya hal itu, jika dilihat dari ukuran baligh, hanya sebatas masa seragam putih abu-abu. Namun ternyata yang terjadi adalah masih banyak mahasiswa yang bersikap demikian, bahkan masih ada juga yang sudah bergelar sarjana. Memang usia bukanlah hal mutlak yang menjadi ukuran kedewasaan seseorang. Akan tetapi, kedewasaan seorang muslim, menurut saya punya konsep tersendiri.

Sebagian dari kita mengatakan bahwa salah satu tanda dewasanya seseorang adalah ketika ia mampu menguasai ego nya. Segala ucapan dan perbuatannya tidak berujung pada dirinya sendiri. Sehingga apapun yang akan ia katakan atau perbuat, akan selalu didahului oleh kepentingan orang lain. Sebelum berkata begini dan begitu, ia akan mendahuluinya dengan memikirkan apa yang terjadi pada pendengarnya setelah ia berkata begini dan begitu. Jika akibatnya baik bagi si pendengar, maka akan ia katakan. Sebaliknya, jika buruk, maka akan ia tahan. Kadangkala ada juga orang yang saking sudah “terlalu dewasa”, bisa meramal lebih dari tiga langkah kedepan layaknya bermain catur. Jika lawan bicaranya teman sebaya, kebanyakan hal ini dilakukan karena takut jika temannya tersinggung karena bicara tidak pada waktu dan tempat yang pas. Begitu juga bila lawan bicaranya lebih tua, atau memiliki derajat/jabatan yang lebih tinggi, maka ia akan lebih berhati-hati lagi.

Namun, bagi seorang muslim rasanya ada sesuatu yang kurang. Semua kembali ke niat. Jika kita berhati-hati dalam berucap dan berbuat, hanya semata-mata agar orang lain tidak tersinggung, atau agar atasan senang kepada kita, maka kedewasaan kita di mata Allah belum berubah. Tidak buruk tapi ada yang lebih baik. Kuncinya adalah berpikir tauhid. Yang Allah suka. Dewasa menurut saya adalah ketika seseorang mampu memuarakan segala aktivitasnya baik ucapan maupun perbuatan hanya kepada Allah swt. Jika suatu hal sudah bermuara hanya kepada allah swt, maka bisa dijamin hal tersebut insyaAllah baik. Misalnya saat kita ingin menasihati teman, sebelum kita bicara, berpikirlah sejenak (hingga dua jenak), Allah suka ga ya kalau saya berkata begini dan begitu kepada si fulan ? Allah suka ga ya kalau saya berbuat ini dan itu kepada si fulanah ?  Tentu saja kita harus tahu ilmunya, apa saja yang Allah suka dan tidak suka. Rasulullah saw sudah menjanjikan ada dua pusaka yang jika kita berpegang teguh kepadanya maka kita tidak akan tersesat, Al Quran dan Al Hadits. Begitu juga dengan hal ini, kita harus tau apa saja yang Allah suka dan tidak suka berdasarkan Al Quran dan Al Hadits. Ditambah Ijtihad dari para ulama. Jika kita berpedoman pada tiga sumber ini, insyaAllah niat kita yang tadinya agar teman tidak tersinggung atau agar atasan senang dengan kita, sudah tercakupi.

Ketika kita akan bepergian, jalan-jalan, kerja, baca buku, nonton film, ngobrol, ngerumpi, sms-an, telpon-an, ngaso, ngeblog, facebook-an, twitter-an, google-an, berantem-an, bahkan mau tidur sekalipun, mulailah dengan pertanyaan Allah suka ga ya ? Kalau Allah suka kerjakan, kalau tidak suka maka tinggalkanlah.

Just my talking, cmiiw J

 

2 thoughts on “yang Allah suka

  1. berpikir –> membaca tulisan ini disuka Allah ga ya?

    Insyaallah Allah suka, karena kata-katanya pelan tapi cukup menohok…

    Lakukanlah yang Allah suka…

    Semangat..

    \(^o^)/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s