Dari mall sampai valentine


Alhamdulillah hari ini sudah hari yang ke-15 saya tinggal di Jakarta. Belum banyak yang saya kunjungi, dan masih ada beberapa tempat yang menjadi target sebelum saya di-grenyang-kan. Karena senin-jumat saya kerja, waktu yang tersisa untuk melihat-lihat Jakarta hanya weekend. Hari ini adalah hari ke-3 petualangan saya di Jakarta. Kalau yang pertama dan kedua saya ditemani oleh abul wafa, tapi untuk hari ini saya jalan sendiri. Karena soulmate saya itu lagi sakit. Katanya sih over olahraga. Habis fitness langsung renang. Sesaat setelah itu sih enak, badan terasa fit, tapi besoknya langsung ah eh ah eh, menggangu teman sekamarnya, haha.

Sebenarnya perjalanan kali ini dengan tujuan ingin membeli pakaian. Soalnya sebagian besar pakaian saya tertinggal di lampung. Maka tempat yang saya pikirkan pertama kali adalah mall. Tadinya sih pengen ke tanah abang. Tapii.. penasaran banget dengan mall di Jakarta, haha. Target utama saya adalah plaza semanggi, kalau diliat dari google maps, itu mall yang paling deket dengan benhil. Akan tetapi, karena saya termasuk yang jarang ke mall, saya ga tau kalau sebagian besar mall itu bukanya baru jam 10 pagi. Sedangkan saya tiba disana baru jam 9. Rencana awal, habis beli celana sama baju disana, langsung balik lagi ke benhil untuk cari-cari kosan yang anti banjir. Tapi karena emang penasaran, saya looking around itu mall. Ternyata lumayan gede juga. Itung-itung jogging lah. Setelah saya puterin dan masih belum buka juga (ya iyalah), akhirnya saya ganti plan.

Tau ga, dulu ketika di bandung saya jarang banget jalan-jalan kayak gini. Alasannya selain karena memang kegiatan lebih padat, saya juga pake motor, jadi ga berasa petualangannya kalo jalan-jalan. Nah, di jekardah ini kan banyak variasi kendaraan umumnya. Ada ojek, bajaj, bemo, metro mini, kopaja, transjakarta, commuter line, dan becak juga ada kayaknya. Makanya kalau bertualang keliling kota pasti lebih terasa. Tapi hanya ada dua kendaraan umum yang jadi favorit saya. Transjakarta dan Kereta Commuter Line. Entahlah. Rasanya asik aja kalau naik kendaraan itu. Walaupun kadang-kadang harus melatih kesabaran juga kalau lagi rame.

Plan B saya (yang seharusnya dilakukan besok) adalah touring cari masjid-masijd tempat kajian. Di sepanjang bus way saya mikirin masjid apa ya yang sering ada kajiannya. Tiba-tiba teringat perkataan temen selingker kemaren kalau di masjid Bank Indonesia sering ada kajian. Kebetulan sekali tempatnya gak terlalu jauh dari benhil. Akhirnya saya kesana sendirian, hehe. Oya, satu hal lagi yang menarik, di jekardah ini banyak gedung-gedung tinggi yang gak bakal diliat di kota-kota Indonesia lainnya (eh katanya sih Surabaya juga). Karena saya “kamseupay” (kosakata ini diajarin sama anak2 pengajian di ghouse dulu. Kepanjangannya “kampungan sekali, uh payah !”, haha), hampir setiap waktu kepala saya mendongak ke atas J. Termasuk begitu tiba di Bank Indonesia. Itu bank atau istana ya. Gedenya masyaAllah gede banget. Itu bank tergede yang pernah saya liat. Untuk ngurusin duit yang kayaknya sih ga ada wujud aslinya aja, perlu bangunan segede itu. Ngapain aja ya disana ??, pikir saya dalam hati. Sebagai sarjana ti (cieleh) saya bener-bener penasaran bisnis proses disana gimana. Kayaknya gak muat bikin idef0 + dfd nya di kertas A0.

Alhamdulillah setelah liat masjidnya, cape buat muterin bank itu jadi ilang. Masjidnya juga ternyata besar dan bersih. Dan kebetulan banget disana lagi ada bedah buku Tarbiyah Fikriyah oleh ustadz Bachtiar Nasir. Nanti akan saya tulis terpisah tentang ini.

Perjalanan selanjutnya adalah mencari toko buku islam. Minimal kayak di gelap nyawang lah. Nanya ke temen, disarankan untuk ke wali songo daerah kwitang. Okay saya meluncur kesana. Pake bus way lagi, assikkk. Target saya mau nyari buku Fiqh Ekonomi Umar Bin Khattab. Tapi setelah sampai disana saya agak kecewa karena harga bukunya mahal-mahal dibanding dengan tempat kang irfan ganyang. Ga ada diskon pula. Ditambah lagi buku yang saya cari malah ga ada. Karena di luar hujan, saya putuskan untuk liat-liat buku yang lain sambil nunggu waktu ashar. Dan ternyata disana ada bukunya pak adiwarman karim tentang bank islam yang direkomendasiin si abul wafa. Langsung saya comot deh.

Selain itu, saya juga beli parfum disana. Untuk bagian ini, saya akan tulis juga secara khusus nanti.

Endingnya. Kwitang kan deket dengan galur. Saya sempatkan menjenguk soulmate saya itu. Tak lupa kalau menjenguk orang sakit selalu saya bawain susu beruang + madu. Tapi khusus untuk dia, madu nya saya ganti dengan coklat sebagai kado “valentine” dari saya, haha..

Soalnya kalau lagi sakit itu, saya kebayang kegembiraan kita dihisap sama dementor, terus kalau habis dihisap, biasanya dikasih coklat untuk memancing rasa gembira yang hilang (halah becanda mulu). Kata anis mata kan jangan sampai kita kehilangan kegembiraan. Jadi tak bawalah itu coklat special buat abul wafa, hehe

Sorry ya, ini sesi diary. Sepertinya gen bawaan dari mama saya ikut berperan.

Cerita mama kemaren, waktu masih sekolah dulu, hampir setiap hari nulis diary dan puisi. Dan ternyata hebohnya, mama saya pernah juara lomba buat puisi. Wuih, keren kan. Sayangnya semua diary sama puisinya udah ga ada lagi.

Tulisan yang sebenarnya akan hadir setelah pesan-pesan yang berikut ini d(0_0)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s