Densus 88 (2)


Oke kita lanjutkan.

Hingga tiba pada suatu malam.

Sudah pukul 22.30, Leo belum pulang juga. Karena khawatir akhirnya mama menelponnya.

Mama : “lagi dimana yo ? kok belum pulang jam segini ?”

Leo : “ini baru mau pulang ma, tadi habis bantuin persiapan acara osis di sekolah.”

Mama : “ohhh yaudah, hati-hati ya nak..”

Leo : “iya ma..”

Karena sudah ditelpon, akhirnya Leo siap-siap dan membatu yang lain sebisanya. Setelah itu, segera dia menuju tempat parker untuk mengambil motor.

Namun di tempat lain, ada suatu panggilan dari nomor tak dikenal menuju handphone papa saya. Waktu sudah menunjukkan pukul 23.00.

Papa : “halo dengan siapa ?”

Orang tak dikenal : “anak Bapak kami culik !” bla bla bla (kayak di sinetron gitulah)

Jreng jreng !

Karena papa saya orangnya emosional, jadi mudah marah. Sehingga membuat panik mama.

Orang tak dikenal : “jangan telpon polisi pak, nanti anak Bapak kami pukulin !”

Papa : “jangan main-main ! saya ini polisi, saya tau betul penipuan kayak gini !”

Orang tak dikenal : “kalau tidak percaya, ini ngomong sendiri dengan anak Bapak !”

Leo : “iya pa ini Leo, orang-orang ini mukulin Leo…”

Papa saya kaget bukan main karena suara ditelpon itu benar-benar mirip dengan suara Leo. Karena belum percaya juga. Telpon itu dikasih ke mama. Mama juga sama, “iya itu suara Leo pa !”

Langsung mama saya menelepon Leo, dan ternyata tututututut, nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif.

Paniklah mereka berdua.

Orang tak dikenal : “kalau anak ibu mau selamat, transfer pulsa dulu 400rb ke nomor ini ! dan telpon ini gak boleh dimatikan ! kalau dimatikan dan pulsanya ga dikirim, anak ibu kami telanjangin dan kami pukulin !”

Mama langsung nangis sejadi-jadinya. Waktu sudah menunjukkan pukul 00.00.

“Papa mau ke kantor di tanjung senang, tunggu disini aja ya !”

“Nggak mau, mama ikut pokok nya ! mama yang transferrin pulsa ke dia, papa cari bantuan !”

Tanpa pikir panjang, saking paniknya mama saya langsung berlari keluar nyari counter pulsa, gak pake sandal ! Papa saya langsung bawa mobilnya ke kantor polisi di tanjung senang.

Saat itu di rumah saya begitu panik. Adik-adik yang lain sudah pada tidur. Hanya papa, mama, dan nenek (sepupu nenek) yang masih terjaga.

Saya ga kebayang gimana kondisi mama saya  waktu itu, berlari-lari ga pake sandal untuk nyari counter pulsa. Pastinya sambil nangis. Sampe gedor-gedor rumah yang punya counternya.

“ada apa bu bidan, kok malem-malem kesini ?”

“anak saya diculik ! penculiknya minta dikirimin pulsa dulu 400rb !”

Akhirnya dikirimin tuh pulsa kesana.

Di tempat lain. Papa segera hubungi teman-temannya. Ga lupa juga hubungi paman nya (masih seumuran, saya memanggilnya nek yan) yang juga polisi, kebetulan rumah kami berdekatan. Nek Yan juga kaget mendengar cerita dari papa, dan langsung ikut ke kantor bareng papa. Setelah itu menjemput mama terlebih dahulu karena telepon itu ada di mama.

“gimana ma ?”

“sudah mama kirim 400rb, tapi penculiknya minta lagi !”

Mama saya tambah nangis lagi sejadi-jadinya.

Karena di counter pulsa yang tadi kehabisan stok, jadi keliling lagi buat nyari counter yang lain. Jelas ga ketemu. Mana ada yang buka jam setengah 1 malem. Akhirnya mereka langsung ke kantor polisi.

Karena Nek Yan juga ikutan panik. Akhirnya beliau memanggil densus88.

(Gilak nih !)

Ga tanggung-tanggung, ada 8 mobil densus88 lengkap dengan baju dan peralatan anti teroris. Bener-bener heboh itu di jalanan tanjung senang banyak polisi yang lagi patroli.

(saya ga kebayang berapa biaya yang dibutuhin kalau manggil sendiri, untung ada Nek Yan jadi gratis)

Singkat cerita, densus 88 langsung melacak sumber telepon itu. Ternyata ada di Medan. MEDAN !

Mulai dari sini, sudah terlihat kejanggalannya. Gak mungkin dalam waktu 2 jam Leo sudah dibawa ke medan.

Kemudian karena sudah sangat lelah dan lemas, mama saya bicara dengan penculiknya,

“sudahlah pak, tolong lepasin anak saya, percuma minta tebusan ke saya, saya ini bukan orang kaya…”

“siapa juga yang bilang ibu orang kaya !”

(saya : bagian ini kocak banget, hehe)

Karena hampir putus asa. Mama saya langsung mematikan hp itu.

Dan ternyata banyak panggilan tak terjawab dan sms masuk dari nenek saya yang di rumah.

“Tres, ini Leo ada di rumah”

“hah? Beneran bi ?”

Mama saya langsung menelepon penculik itu lagi, dan bilang kalau beliau sangaaaat sakit hati. “lihat saja, besok pasti terjadi sesuatu pada kalian !”, begitu mama menyumpahi mereka. Polisi disana juga segera meghubungi polisi di Medan untuk melacak nomor itu.

Kemudian papa dan Nek Yan serta beberapa polisi menuju ke rumah untuk mengeceknya.

 

Sebelumnya di rumah :

Nenek : “lah ini kak Iyo lagi tidur di kamar !, yo, iyo, kamu gak papa ?? (sambil mendorong2 Leo untuk membangunkannya karena panik)

Leo : “apa sih nenek ini, leo masih ngantuk td baru pulang !”

Ternyata leo sudah pulang dari jam setengah 12 ketika orang-orang pada panik dan sedang di luar mencarinya. Karena dia sangat kecapean, begitu pulang langsung tidur di kamarnya.

Begitu semua orang sampai di rumah, semua langsung menuju kamar Leo. Dan habislah dia dimarahin papa dan Nek Yan. Terus tiba-tiba dipeluk mama sambil nangis. Leo yang innocent juga bingung kenapa tiba2 banyak polisi dan dipeluk mama sambil nangis, akhirnya diapun ikutan nangis.

“sudahlah pa, jangan marah-marah sama Leo, Leo juga kan gak tau apa-apa..”

“lain kali ga boleh pulang malam lagi !”, kata papa.

Dan benar saja, paginya penipu itu sms berkali-kali yang isinya minta maaf. Tapi tidak digubris oleh mama saya.

Selesai.

 

Begitu besarnya rasa cinta orang tua kepada anak-anaknya. Itu mereka ekspresikan dengan cara yang berbeda. Bisa dilihat bagaimana papa mengekspresikan cintanya, dan begitu juga dengan mama.

Benarlah kata rasulullah, jika seandainya engkau menggendong ibumu untuk bertawaf sampai habis umurmu, maka itu belum bisa membayar semua kebaikannya untukmu.

Semoga cerita ini bisa diambil hikmahnya.

 

Mama, papa, love you all the way.

One thought on “Densus 88 (2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s