Murobbi


Ini adalah salah satu kisah kakak kelas saya di kampus yang sangat menginspirasi. Orangnya sangat sederhana, tidak nampak sesuatu yang hebat kalau hanya melihatnya sepintas. Tapi kalau sudah berinteraksi dengannya, barulah saya bilang WOW.

Dan saya memang harus bilang WOW se WOWWOWnya, hehe

Semoga membuat kita tambah semangat untuk membina.

–R.A–

Saya diminta berbagi tentang bagaimana mengelola banyak kelompok di tengah amanah yang saya pegang. Saya merasa perlu untuk menjelaskan tingkat kesibukan saya sehingga memperjelas gambaran batasan yang saya hadapi dan Allah izinkan saya untuk mengatasinya sehingga diberi rezeki memegang sepuluh kelompok binaan. Saya:

  1. Mengikuti dua kuliah magister di dua kampus yang berbeda.
  2. Bekerja dengan  jam kerja 40 jam per pekan. Penghasilan 1,6 juta per bulan.
  3. Saya memegang amanah di dakwah kampus, dakwah sekolah di level sekolah maupun kota Bandung, dan di DPC bagian kaderisasi.
  4. Kelompok yang saya bina rata-rata adalah umur SMA hingga kuliah. Yang SMA ada sekitar 3 kelompok, 7 kelompok umur mahasiswa, dan 1 kelompok umur SMP.
  5. Saya tetap bisa diandalkan orangtua dalam menjalankan beberapa tugas di rumah.

Saya sangat berharap tulisan ini dapat memotivasi pembaca untuk memiliki banyak kelompok binaan. Hal ini perlu dan bisa kita lakukan.

Mengapa harus? Dan Apa manfaat Mengelola banyak kelompok?

  1. Kebutuhan murobbi amat besar. Ada berapa kader dakwah di Indonesia? Ada berapa masyarakat Indonesia? Dengan asumsi kita mengandalkan dakwah model liqo saja, maka kita butuh amat banyak murobbi. Kita sangat sering melihat kebutuhan murobbi yang tidak terpenuhi, sampai-sampai harus digaji untuk mendapatkan murobbi yang mau
  2. Kebanyakan orang takut memegang banyak kelompok akan mengganggu amanah yang lain, kuliah misalnya. Saya membuktikan sebaliknya. Ketika jumlah kelompok liqo saya hanya 1, IP saya di bawah 3. Ketika dinaikkan menjadi 5 kelompok, IP saya meningkat menjadi 3,25. Dan ketika dinaikkan menjadi 7 kelompok IP saya meningkat menjadi 3,65. Bahkan saya mendapat beasiswa gratis S2 di kampus saya ketika jumlah kelompok binaan saya dinaikkan menjadi 10 kelompok. Benar janji Allah dalam surat Muhammad bahwa Allah akan menolong kita dan meneguhkan kedudukan kita bila kita menolong Agamanya. (IP : indeks prestasi).
  3. Setiap hari kita punya 16 jam aktif. Berarti sepekan ada 112 jam. Bila 15 jam saja kita isi untuk mengelola 10 kelompok tentu cukup. Waktu tersebut tidak banyak dibandingkan dengan manfaat dan pahala yang bisa kita dapatkan.
  4. Setiap selesai mengisi satu liqo saya pun seperti terbina oleh materi yang saya sampaikan. Wawasan saya seperti dipaksa meluas oleh pertanyaan-pertanyaan binaan. Ruhiyah jaga menjadi lebih terjaga karena hampir tiap hari saya membina.

Bagaimana Caranya?

  1. Pertanyaan pertama adalah bagaimana mendapatkan kelompok binaan sebanyak itu? Kalau kita menunggu, biasanya tidak dapat. Namun ternyata kalau kita mau jalan-jalan, banyak sekali lahan dakwah yang membutuhkan mentor. Jumlah SMA di Kota Bandung ada 200-an. Jumlah Kampus ada 100-an. Belum dihitung masjid warga. Kebetulan saya bergerak cukup aktif dalam bagian perintisan dakwah. Maka serta merta saya selalu menghadapi kebutuhan mentor yang banyak. Dulu misalnya saya merintis dakwah rohis di SMA Puragabaya. Otomatis kalau dakwah dibentuk, harus dibentuk pula kelompok halaqoh pertama. Maka saya menjadi mentor bagi halaqoh pertama di SMA Puragabaya. Pun jika kita sering bergaul, akan sangat banyak tawaran apakah kita mau menjadi mentor atau murobbi.
  2. Mungkin anda berpikir bahwa kalau memegang 10 kelompok maka harus menyusun 10 materi setiap pekannya. Cara saya tidak seperti itu. Saya menyusun satu materi liqo untuk lalu disampaikan pada semua kelompok. Maka waktu persiapan jadi hemat. Materi yang kita siapkan pun lebih berdaya guna.
  3. Saya mengagendakan liqo dalam waktu 60-90 menit saja. Kebetulan mutarobbi saya banyaknya mahasiswa dan anak SMA yang cepat bosan dan sibuk macam-macam. Maka waktu selama itu sudah cukup.
  4. Apakah cape dalam presentasi? Dalam proses liqo, saya berbicara tidak harus terus menerus. Lebih banyak diskusi dan mempersilahkan binaan untuk berpendapat. Saya bisa istirahat. Dengan diadakan presentasi bergilir, saya pun bisa melatih binaan saya agar siap menjadi murobbi di masa depan. Juga saya adakan sesi untuk kritik dan saran terkait pola presentasi sang presentator sehingga bisa mendapat banyak pelajaran.
  5. Saya membuat semacam grup facebook untuk tiap kelompok liqo. Materi-materi yang tidak bisa disampaikan saat liqo disampaikan lewat grup facebook tersebut. Misalnya binaan butuh materi fiqh sholat, maka saya tinggal kirimkan link website-nya.
  6. Kalau ada binaan yang tidak bisa hadir pada jadwal yang ditentukan, saya haruskan dia untuk hadir pada jadwal kelompok lain yang saya pegang juga. Dengan cara itu kehadiran bisa dioptimalkan.
  7. Saya menunjuk ketua di tiap kelompok yang bertugas untuk menjarkom dan mencarikan jadwal liqo serta menanyakan konfirmasi kehadiran anggota. Dengan cara itu beban pikiran saya bisa dikurangi.
  8. Dalam satu hari kadang kala saya harus menyelenggarakan 3 sampai 4 liqo. Kadang itu melelahkan maka diperlukan jeda istirahat untuk berbaring.
  9. Keuntungan dalam memiliki banyak kelompok adalah kalau ada agenda bersama, bisa sekaligus. Misalnya kalau mau mengadakan futsal maka bisa mengajak tiga kelompok sekaligus.
  10. Data kehadiran harus dimasukkan dalam microsoft excel yang terpadu sehingga bisa dicek bagaimana kehadirannya. Kalau megandalkan ingatan tidak akan kuat.
  11. Agar bisa disiplin kadang diterapkan semacam prosedur menanggulangi binaan yang tidak hadir. Prosedur tersebut juga amat penting agar kita tidak perlu pusing memikirkan agenda dan strategi untuk kesepuluh kelompok binaan kita. Bila misalnya ada binaan yang mulai sering bolos, saya mendelegasikan kepada kawan sekelompoknya agar mengajark dan menasehatinya lagi.
  12. Ada yang mengatakan bahwa memegang banyak kelompok itu tidaklah optimal. Pendapat saya tidak semua kelompok harus diperlakukan secara optimal. Sekedar “cukup” saja ternyata itu membuat binaan kita makin baik. Saya berpikir lebih baik saya memegang satu liqo dengan optimal dan sembilan kelompok dengan kategori cukup saja, dari pada sembilan kelompok tersebut tidak mendapatkan halaqoh sama sekali.
  13. Agar binaan saya mendapat kualitas pembinaan yang kian prima, secara bertahap saya delegasikan kelompok binaan saya kepada orang lain yang siap.
  14. Bila saya tidak bisa hadir dalam liqo saya akan berusaha untuk mencari murobbi pengganti sementara.
  15. Setiap perjalanan menuju tempat mengisi liqo biasanya saya mendengarkan lagu “Sang Murobbi” di jalan agar menjaga semangat juang dan kekhusyuan dalam membina.
  16. Seringkali tidak ditemukan jadwal liqo yang semua orang bisa. Solusinya, orang yang diperkirakan sibuk dan jadwalnya beda sendiri dapat dipindahkan ke kelompok lain.

Apa yang akan kita lakukan sekarang?

  1. Kita akan mengontak kawan kader yang punya hubungan dengan DPC, sekolah, kampus, masjid warga, masjid kantor untuk bertanya apakah ada kelompok liqo yang bisa kita pegang?
  2. Kita juga coba melihat lingkungan sekitar kita dan kita mencari cara bagaimana agar bisa dibentuk liqo baru di lingkungan kita. Misalkan di masjid dekat rumah kita mengadakan training pengembangan diri untuk remaja. Kita mengundang trainer dari luar dan sang trainer kita minta untuk memotivasi peserta agar mau lanjut liqo dengan kita sebagai murobbinya. Atau kita juga bisa tanpa tedeng aling-aling langsung ajak liqo pada orang yang kita temui.
  3. Setelah mendapatkan kepastian kelompok, kita langsung jarkom dan pekan itu juga kita langsung mengadakan pertemuan pertama.
  4. Kita melakukan langkah 1 sampai 3 terus menerus hingga jumlah kelompok kita banyak. Terus tambah hingga kita merasa pusing untuk mengatur banyaknya kelompok binaan.
  5. Bila sudah merasa pusing, tahap berikutnya adalah coba duduk kemudian pikirkan cara agar teratur. Bila ternyata tetap pusing dalam mengelola kelompok yang banyak, delegasikan pada kawan se-grup kita.
  6. Begitu seterusnya hingga kita menginjak angka pertumbuhan kelompok. Check pointnya adalah. Memegang satu kelompok, 5, 7, lalu 10, dan 13. Di angka tersebut yang mungkin akan terjadi kepusingan namun kepusingan itu akan hilang setelah adaptasi yang cukup.

Demikian yang bisa saya sampaikan. Semua hal di atas adalah sekedar titipan dari Allah. Dan mari kita berdoa semoga Allah menitipkan rezeki mempunyai kelompok binaan yang banyak pada kita semua kader dakwah di Indonesia. Segala yang benar datangnya dari Allah dan yang salah dari saya pribadi. Mohon maaf bila ada kesalahan. Salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s