Mengapa bercerita ? Mengapa berdongeng ?


Baru habis baca bukunya Kak Bimo “Mahir Mendongeng”, jadi pengen nulis..

Sebuah penelitian Dr. David McClelland yang dikutip kak Bimo melalui Dr. Arief Budiman tentang kaitan antara kemajuan bangsa dan dunia cerita. Ternyata kegunaan dongeng atau cerita anak-anak tidak hanya menitipkan pesan-pesan moral kepada anak cucu.

Awalnya, David McClelland mempertanyakan mengapa ada bangsa-bangsa tertentu yang rakyatnya suka bekerja keras untuk maju dan mengapa ada yang tidak ? ” dia membandingkan bangsa inggris dan spanyol, yang pada abad ke -16 merupakan dua negara raksasa yang kaya raya, namun sejak itu inggris terus berkembang menjadi semakin besar, sedangkan spanyol menurun menjadi negara yang lemah. apa yang menjadi penyebabnya ?”

Setelah semua aspek diperiksa, akhirnya dia menemukan jawabannya. McClelland mulai memperhatikan hal lain : cerita atau dongeng anak-anak yang terdapat di kedua negeri tersebut. Dongeng  atau cerita anak-anak yang berkembang di inggris pada awal abad ke-16 itu mengandung semacam “virus” yang menyebabkan pendengar dan pembacanya terjangkit “butuh berprestasi” atau the need for achievement, yang kemudian disimbolkan dengan n-Ach. Sementara dongeng atau cerita anak-anak yang berkembang di spanyol justru hanya meninabobokan, tidak mengandung virus tersebut.

hmm.. oh yah ? menarik..

Orang jepang menanamkan jiwa luhur samurai (bushido, ichiban, dll) melalui budaya dan kisah-kisah yang diceritakan kepada anak-anak mereka sehingga kita bisa melihat sifat tekun dan kerja kerasnya orang jepang. Di China juga sama, bagaimana guru-gurunya mengajarkan kegigihan dalam bekerja keras melalui kisah keuletan dalam mencapai kesuksesan. Bahkan di Amerika, melalui dongeng-dongeng futuristiknya membuat anak-anak di negara itu terobsesi dengan antariksa, alat komunikasi, transportasi, dan persenjataan canggih.

Lalu, bagaimana dengan negara kita Indonesia sekarang ini ? Banyak media terutama televisi yang menjadikan anak-anak di negeri ini penakut hanya dengan menayangkan acara-acara berbau mistik apalagi dengan film-film hantunya yang semakin nggak jelas. Belum lagi dengan tayangan sinetron baik sinetron “muda” maupun “tua” yang membuat mental anak-anak di negeri ini lemah dan berpikiran sempit. Hufth..

Padahal masih banyak kisah atau dongeng di negeri ini yang seharunya dapat dijadikan rujukan karena bisa membangun bahkan merekayasa karakter anak-anak menjadi lebih baik. Misalnya kisah asal daerah minangkabau yang mengajarkan kita untuk tegar merantau dan berani mengubah nasib. Atau cerita dan hikayat khas Indonesia yang lainnya. Sayang, hari ini saya sangat jarang sekali melihat dan mendengar kisah-kisah itu. Tapi alhamdulillah saat ini sudah banyak juga diproduksi film-film Indonesia dengan cerita  yang berbobot.

Bahkan di dalam Al Quran pun ada sekitar 300an ayat yang berisi cerita atau kisah. Ini menandakan bahwa Allah tahu kita akan lebih mudah dalam memaknai hikmahnya melalui kisah-kisah tersebut. Misalnya kisah Fir’aun dengan kesombongannya, Qarun dengan ketamakannya, atau kisah saudara-saudara nabi Yusuf dengan kedengkiannya dan masih banyak lagi.

Menurut kak Bimo ada dua alasan mengapa metode cerita ini efektif untuk membangun karakter anak-anak. Pertama, cerita pada umumnya lebih berkesan dari pada nasihat murni. Sehingga cerita akan terekam jauh lebih kuat dalam memori kita. Cerita-cerita yang kita dengar di masa kecil mungkin masih kita ingat sampai sekarang. Kedua, melalui cerita manusia dididik untuk mengambil hikmah tanpa harus merasa digurui. Karena memang biasanya kita merasa tidak nyaman jika diceramahi dengan segudang nasihat yang panjang.

Saat ini sudah banyak buku-buku cerita yang berbobot, mulai dari kisah para sahabat dan salafush shalih sampai dengan kisah fiktif yang penuh makna dan pelajaran. Bahkan tidak perlu bingung mencari referensi, karena di dunia maya pun sudah banyak cerita-cerita bagus dan mendidik. Tapi ingat, jangan asal comot, perlu seleksi juga.

Setelah saya coba, ternyata bercerita atau berdongeng itu menyenangkan. Disamping bisa bertemu adik-adik yang imut dan lucu, saya juga bisa menambah pengetahuan sendiri yang terkadang pengetahuan itu tidak saya dapatkan tanpa bercerita. Selain itu, bisa memperkaya stok cerita-cerita kita juga. Tapi tentu saja tidak semudah yang kita bayangkan, dalam bercerita juga sering kali kita temui kesulitan-kesulitan. Apalagi jika anak yang menjadi pendengarnya lebih dari satu. Bayangkan saja ketika kita bicara mereka juga ikut bicara, bahkan lebih banyak dari apa yang kita bicarakan. Untungnya saya udah baca bukunya Kak Bimo, ada tips dan trik tertentu untuk mengatasinya. Silahkan baca sendiri karena nggak akan saya bahas disini.. ^_^

Tentang rekayasa karakter.. hmm.. sepertinya saya dapat inspirasi. InsyaAllah akan saya tulis nanti..

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s