“Keluarga” Baru Disini


Akhir-akhir ini entah mengapa saya suka sekali melihat dan bermain bersama anak-anak usia 10 tahun ke bawah. Mereka sungguh menggemaskan. Cobalah perhatikan dalam-dalam, wajahnya, cara berjalannya, berbicaranya, semuanya menggemaskan. Di wajah mereka sangat jelas sekali terpancar jiwa-jiwa kebebasan bertindak. “terserah gue mau ngapain !” mungkin itu bahasa orang dewasanya jika mereka diminta untuk bicara berterus terang. Yups.. itulah anak-anak, mereka bebas mau ngapain aja, tidak peduli salah ataupun benar, yang penting rasa ingin tahunya terpenuhi.

Di tulisan ini saya tidak akan menjelaskan cara mendidik anak (kan belum punya anak, nikah aja belum, ntar malah jadi sotoy), tapi mungkin suatu hari nanti, suatu saat di kemudian hari, saya akan berbagi dengan Anda semua (tsah!).

Oke cukup. Saya hanya ingin memperkenalkan “keluarga” saya yang baru disini. Di sebuah kontrakan di jalan cikutra yang biasa kami sebut Ghouse 2. Kira-kira 3 bulan yang lalu, kami diminta Pak Brian selaku pemilik kontrakan dan warga sekitar untuk mengajar mengaji anak-anak di sekitar kontrakan. Pada awalnya kami ragu, karena dengan kesibukan rata-rata mahasiswa ITB, khawatir tidak akan sempat, apalagi mengajarnya hampir setiap hari (senin-jumat). Hingga pada suatu shubuh, kami bertemu dengan salah satu tokoh warga(ustadz) bersama istrinya. Obrolan pun dimulai dari berkenalan sampai pada akhirnya membicarakan tentang pengajian anak-anak tersebut. Beliau merasa kewalahan jika mengajar anak-anak yang jumlahnya 10-15 orang hanya berdua dengan istrinya mengingat sekarang beliau sudah sangat sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Ringkas cerita akhirnya setelah kami bicarakan dengan penghuni Ghouse yang lain, insyaAllah kami semua menyanggupinya.

Hari pertama di jadwal yang dijanjikan sang ustadz kami menunggu. Menunggu sejak ba’da magrib sampai isya tetapi belum ada satu anak pun yang datang. Karena penasaran, akhirnya saya coba tanyakan. Setelah mendengar penjelasan dari ustadz, ternyata anak-anak masih trauma atau takut dengan Pak Haji (mertuanya Pak Brian) yang dikenal agak galak kalau sama anak-anak. Akhirnya sang ustadz pun memberitahukan kepada orang tua anak-anak bahwa yang mengajar adalah mahasiswa-mahasiswa ITB.

Hari pertama (yang sebenarnya nih), ada sekitar 15 anak yang datang. Mereka masih canggung ketika saya ajak berkenalan.

Wah, lama nih kalau diceritain dari awal sampai akhir.

Saya ringkas lagi ya.

Dengan semua dinamisasi yang terjadi akhirnya inilah anak-anak yang bertahan sampai sekarang. Hehe… (kayak seleksi alam aja)

Hanna

Anak kelas 4 SD yang cerdas. Selalu mendapat ranking 1 atau 2 di kelasnya. Pokoknya kalau pelajaran sekolah dia jagolah. Ngajinya juga sudah sampai baca Al Quran, di Surat Ali Imran sekarang. Anaknya agak manja, butuh perhatian yang tinggi (selalu cari perhatian nih anak). Suka naik2 gak jelas di punggung saya. Pernah sampe pegel banget paginya karena dinaikin dia.

Zahra

Anaknya hitam manis. Kelas 2 SD. Sekolah di SD Islam Terpadu. Kalau pelajaran sekolah umum dia tidak terlalu hebat. Tapi kalau sudah bicara soal agama, surat-surat dalam Al Quran, cerita nabi-nabi, dia yang paling jago. Dia juga udah hafal surat an naba’ dan an nazi’at lho.. Kalau kami mengadakan lomba cerdas cermat, semua anak2 pengen sekelompok sama Zahra. Haha.. gimana mulainya kalau gini terus. Zahra suka naik di pundak saya, minta digendong. Kalau dia sendiri sih gak papa, tapi biasanya diikutin anak-anak yang lain. Ini yang nyebelin, sakit semua badan, hadeuh..

Shannya

Dia saudara sepupunya Hanna. Kelas 2 SD. Anaknya juga cerdas sama kayak hanna. Semester kemaren dapet ranking 1 dikelasnya. Awalnya baru Iqro’ 4, tapi karena sudah cukup lancar bacanya, sekarang sudah pakai Al Quran juga. Shannya termasuk anak baru, karena di awal saya belum pernah melihatnya. Kalau yang ini gak bandel, gak suka naik2 pundak orang. Orangnya cukup dewasa dan pengertian. Oh ya, panggilannya Annya.

Marsha “Caca”

Anak umur 3 tahun yang imut-imut. Dia adiknya Shannya. Sayang nya dia takut sama saya T.T.. (kenapa ya..). Dia nggak ngaji, Cuma ikutan kakaknya aja. Tapi kalau saya lagi cerita ternyata dia dengerin juga. Lucu bangetlah pokoknya, bayangin aja 3 tahun.

Naura

Gadis padang nih. Kelas 4 SD. Ikut Aikido. Ciattt.. kalau marah suka gigit tangan saya. Parahlah. Ngajinya juga sudah Al Quran, tapi belum lancar, waktu itu pernah saya minta balik lagi ke Iqro’ tapi gak mau dan jadi marah ke saya. Heu..

Najwa & Najla

Anak kembar umur 6 tahun. Sekarang masih TK. Lucu banget, imut-imut juga. Sukanya menggambar, susah banget kalau disuruh ngaji, harus dibujuk dengan rayuan super dulu baru mau. Tapi mereka suka sama saya, hehe.. suka pegang-pegang telinga juga kalau saya lagi ngajar yang lain. Oh ya, mereka berdua ini adiknya Naura. Jadi keturunan padang juga. Susah membedakan mereka berdua, ketuker mulu. Bedanya Cuma satu, gigi najla (atau najwa ya? Lupa) bagian depannya ompong. Mereka berdua juga biasa dipanggil adek dan uni.

Annisa “Nisa”

Anak perempuan yang tomboy. Kelas 4 SD, tapi ngajinya baru sampe Iqro’ 4. Pinter banget bahasa sundanya. Orangnya manis lagi. Tapi cerewetnya minta ampun. Saya suka dicubit, sakitnya luar biasa… suka bilang Allahu Akbar kalau lagi ketakutan. Dia yang buatin pantun waktu itu untuk saya..hoho

Adel “Afiqah”

Ini adeknya Nisa. Imut banget kayak afiqah iklan oreo yang baru. Umurnya baru 5 tahun, masih TK. Baru ngaji di Iqro’ 1. Adel yang paling saya suka, paling menggemaskan soalnya. Waktu di awal2 dulu gak suka ngomong dan agak takut sama saya. Tapi sekarang sudah jadi cerewet kayak kakaknya, kalau lagi ketakutan suka ngeremes tangan orang.

Viona

Anaknya hitam manis juga. Sudah kelas 5 SD kalau gak salah. Lupa. Anaknya lumayan pendiem soalnya. Suka menyendiri juga. Tapi kalau diajak ngomong malah jadi responsif.

Syifa

Anak kelas 3 SD yang paling gendut. Bacaan Al Qurannya paling bagus dari yang lain. Tapi sekarang dia lagi pundung sama saya T.T.. gak tau kenapa..

Kinanti

Lupa kelas berapa. Sekarang lagi di Iqro’ 4. Orangnya pendiem juga. Gak banyak tingkah kayak anak-anak yang lain.

Arul

Inilah dia satu-satunya anak cowok yang bertahan. Kelas 4 SD. Sekarang udah di Iqro’ 5. Gaya ngomongnya mirip azis gagap. Suka ngelawak emang. Dia yang paling friendly dengan anak2 cewek, makanya sekarang masih bertahan.

Sarah

Ini tetangganya arul. Masih TK. Iqro’ 3. Temen mainnya Adel, Najwa, Najla. Paling suka sama Wagus.

Aliya

anak yang saya suka juga. Tapi dia takut sama saya, sampe akhirnya gak mau ngaji lagi karena takut sama saya… T.T namanya aliya, kalau pake jilbab, Ciputnya selalu kepanjangan. Lucu dah ngeliatnya. Hadeuh… kakak merindukanmu, kembalilah.. (weks)

Sebenernya masih ada yang lain, tapi jarang banget dateng. Jadi saya lupa deh namanyaJ

Selesai. Sampai jumpa di cerita berikutnya.

Kalau ingin melunakkan hatimu, berinteraksilah dengan anak-anak. Trust me it works.

 

 

 

 

 

2 thoughts on ““Keluarga” Baru Disini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s