Kisah Si Buta


Kayaknya ini pertama kalinya saya ngnote di fb, td malem disuruh nulis sama kak rizki. Cuma ini yang kepikiran bos.

Cerita ini saya dapatkan dari dosen saya ketika beliau sedang mengajar mengenai agregasi. Menurut saya menarik. Silahkan ambil hikmahnya.

Di suatu trotoar jalan, ada seorang pengemis yang tidak mampu melihat alias buta. Hampir setiap hari ia berada di trotoar jalan itu untuk mencari nafkah (baca:mengemis). Suatu hari, karena ia bingung memikirkan bagaimana caranya supaya orang-orang yang melalui trotoar tersebut peduli kepadanya dengan mengisi uang ke mangkuk yang telah ia sediakan seperti biasanya, tanpa berpikir panjang iapun mengambil secarik kertas dan menulis kalimat “saya buta, tolong berikan uang kepada saya” di kertas itu. Hari demi hari memang lumayan banyak pertambahan orang yang memberikan uang kepada pengemis buta itu. Namun pertambahan itu tidak cukup berarti karena belum mencukupi kebutuhan hidupnya.

Beberapa hari kemudian, ada seseorang yang mendekat kepada pengemis buta tersebut dan melihat tulisan di kertas yang diletakkan pengemis itu di dekat mangkuk miliknya yang berisi uang receh. Setelah membacanya, seseorang itu lalu mengganti tulisan tersebut, kemudian pergi. Setelah kejadian itu, hasil yang diperoleh pengemis buta itu ternyata semakin banyak, lebih dari hari-hari biasanya. Tiga hari berlalu, iapun masih bingung dan bertanya-tanya dalam hati kira-kira apa penyebabnya, akhirnya ia ingat tiga hari yang lalu ada seseorang yang mendatanginya dan menurut pendengarannya seseorang itu telah mengganti tulisan yang telah dibuatnya. Tentunya hal ini sangat membuatnya penasaran. Apa sebenarnya yang telah ditulis oleh orang tersebut.

Satu minggu kemudian, seseorang itu kembali lagi menghampiri sang pengemis buta, akan tetapi kali ini pengemis buta itu nampaknya mengenali langkah kaki yang mendekatinya. “maaf pak, apakah Anda yang waktu itu mengganti tulisan di kertas saya ini ? apa sebenarnya yang  Bapak tulis ?”, tanya sang pengemis penasaran. Seseorang itu pun menanggapinya, “saya hanya menuliskan keadaan Bapak yang sebenarnya”. Hanya dengan menjawab seperti itu, seseorang itu pun langsung pergi meninggalkan sang pengemis.

Ada yang tahu apa tulisannya ??

Kata dosen saya di kertas itu tertulis “Hari ini merupakan hari yang sangat indah, tetapi saya tidak bisa melihatnya”.

Kalau dipikirkan, ternyata memang kalimat yang ditulis seseorang dalam cerita di atas lebih menyentuh daripada yang dituliskan pengemis buta. Terkadang dalam berdakwah kita hanya melakukan apa adanya, hanya sekedar melepaskan kewajiban dan tidak melihat ada apanya dibalik dakwah itu sendiri. Jarang sekali kita melibatkan hati ini dalam berdakwah sehingga agenda-agenda dakwah yang kita lakukan pun “tidak laku”. Padahal rasulullah sudah banyak mencontohkan kepada kita bagaimana seharusnya dalam berdakwah. Masih ingat kan tentang kisah seorang yahudi yang hampir setiap harinya disuapi oleh rasullah kemudian marah ketika disuapi oleh Abu Bakar yang menggantikan rasulullah yang saat itu telah wafat. Mungkin inilah yang dinamakan keikhlasan dalam berdakwah.

Ayo semangat dakwah 55 (dr TNI, kalo semangat lagi full itu 55 katanya) !

Hadirkan hati, satukan langkah, eratkan ukhuwah, bersama ridho Illahi.

( Bandung 1 Oktober 2010, 05.10)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s